Berhubung ini malam minggu, ngungkapin isi hati aja ah ... (curhat)
Sekarang tepat 1 hari sebelum menuju 23 bulan dengannya. Sosok pria yang memang aku harapkan kehadirannya sejak dulu. Aku sangat mencintainya sebagai kekasihku.
Dia pria yang lemah lembut dalam berkata dan bersikap,
Dia pria yang hangat dalam bertingkah dan berfikir,
Sulit untuk menjabarkan secara detail sosok dirinya, dia yang ku sayang...
Aku yang saat pertama mengenal dirinya, berada dalam keadaan yang terburuk dibanding hari hari apapun, saat hati ini pun sudah tidak menginginkan raga ini, aku mulai mengenalnya. Dia pria yang sederhana, lebih sederhana dari yang ku kira. Aku mengenalnya tanpa rencana hingga sampai saat ini aku memilikinya.
Aku syukuri akan kehadirannya yang telah mendampingiku selama ini. Aku sangat nyaman dengan keberadaannya di luar masalah atau konflik yang sering terjadi karena hal sepele hingga hal besar yang tak terduga.
Dia harapanku, pengantar harapku KepadaNya..
Sungguh aku ingin menjadikannya sebagai suamiku yang syah, yang mampu menjadi Imam untuk hidupku selanjutnya. Tapi apa daya? aku hanyalah seorang wanita, aku adalah seorang yang akan dinikahi bukan untuk menikahi. Aku hanya salah satu dari wanita yang terpilih untuk dinikahi, entah siapa yang akan menikahiku, aku pun tak tau.
Aku menyayanginya melebihi sayangku pada raga ini. Aku berusaha menjadikannya nomor 1 dibanding siapapun. Aku sangat berharap kepadanya melebihi apapun. Aku bahagia dengannya hingga semua berubah menjadi duka. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku takut untuk mendekatinya, aku takut untuk berharap kepadanya. Memang seharusnya aku tidak berharap kepadanya. Mungkin itulah Jalan yang Allah SWT. berikan kepadaku agar aku tidak lagi lagi melampaui batas meskipun kesalahan selalu ku lakukan.
Kini dia hanya salah satu harapanku. Aku lebih berharap untuk mampu membenahi diri ini di JalanNya.
Bukan berarti aku tidak menyayanginya, aku masih menyayanginya, masih sangat menyayanginya. Tetapi ku atur sebaik mungkin agar hati ini tidak kembali berharap kepadanya.
Aku tidak tahu siapa jodohku kelak, dan aku tidak tahu hingga kapan aku berada di BumiNya.
Aku sadari bahwa dia adalah pertolongan dari Allah Swt untukku, ketika aku dulu rapuh dan terjatuh, dia yang membantuku untuk mampu berdiri dengan sikapnya yang khas. Aku tahu dia pria yang baik. Bahkan saat ini aku berusaha untuk memperbaiki diri pun karena ingin menyeimbanginya. Aku percaya bahwa Allah Swt akan memberikan lelaki yang baik untuk wanita yang baik dan wanita yang baik untuk lelaki yang baik.
Aku merasa dia sangat baik, Aku ingin pantas dengannya. Aku ingin menjadi wanita yang baik yang diberikan Allah Swt untuknya (Allahumma Aaamiin)
Jalan Allah Swt. memang tak terduga. Kini aku tak lagi berharap kepadanya, aku berusaha untuk berharap hanya kepada Allah Swt. Sang Pemilik Segalanya.
Aku memang bukan wanita yang baik tetapi aku sedang berusaha dan berharap mampu untuk menjadi wanita seperti itu
Aku memang bukan wanita sholehah tetapi aku sedang berusaha dan berharap mampu untuk menjadi wanita seperti itu
tidak hanya untuk diriku, tetapi untuk suami dan keluargaku kelak.
Dia masih selalu membimbingku, dia masih selalu menjagaku meskipun dalam jarak, dia tetap mejadi kekasihku yang ku sayang. Tak sanggup raga dan hati ini untuk meninggalkannya secara utuh agar aku menyerahkan diri kepada Allah Swt.
Aku ingin mencapai Izin dan RidhoNya tanpa menyakitinya, aku ingin menjaga dia, seperti dia menjagaku.
tetapi aku kembali salah dan Allah Swt menegur pikiranku. Kini aku berpikir untuk bersikap baik terhadap dirinya. Karena sampai kapanpun aku tidak mampu membalas kebaikannya apalagi kebaikan OrangTua ku. Lebih baik aku berdoa agar dia mendapatkan yang terbaik dan balasan yang terbaik atas sikapnya yang menjagaku. Aku tahu Tuhanku MahaMendengar meskipun doa yang terucap dari hamba yang hina seperti diri ini.
Aku mulai belajar memahaminya, meskipun sudah hampir 23 bulan bersama, namun selama itu hanya dia yang memahamiku, aku sedikitpun tidak berusaha memahaminya. Itulah diriku yang egois, sangat egois terhadapnya. Sampai saat ini sulit untuk memahaminya karena diri ini terlampau egois.
Aku sering memakinya, aku sering menuduhnya selingkuh, bahkan setiap hari aku mencurigainya. Dia hanya tertawa pusing dengan segala tuduhanku. Sebenarnya aku yakin dia tidak selingkuh, karena kalaupun selingkuh tidak ada dosa baginya. Toh aku dan dia pun hanyalah sepasang kekasih, bukan sepasang suami-istri.
Hingga kini dia tetap yang terbaik. Akan ku pertahankan hingga saat yang seharusnya.
Saat ku tulis semua ini aku tak tau siapa jodohku dan jodohnya...
semoga umur ini masih masih mampu untuk melihat siapa yang menjadi jodohku dan jodohnya hingga ku buka kembali catatan ini.
Jawaban dari penantianku selama ini.
Dia kekasih yang ku sayang, yang ku impikan hampir setiap malam, tak peduli apa kata yang lain, dia tetap yang terbaik dari Allah Swt untukku dan semoga aku mampu menjadi yang terbaik dari Allah Swt untuknya ...
Aku berusaha bertahan dengannya, dengan penuh harapku kepada Allah Swt.
"Yaa Rabb... Engkau MahaTahu akan segala sesuatu, hamba tidak meragukan segala KekuasaanMu... hamba memohon keRidhoanMu atas segala ibadah yang hamba lakukan...
hamba yakin apapun yang terjadi, semua itu memang harus terjadi... hamba memohon izin kepadaMu agar hati ini mampu menerima segala yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang akan terjadi.
Allahumma Aaamiin ..."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar