┐('⌣'┐) (┌'⌣')┌ wilujeung sumping ┐('⌣'┐) (┌'⌣')┌

Senin, 27 Juni 2011

aku ingin pergi

semua semakin tak terkendali
seakan aku tak mengenali siapapun termasuk diri ini
salahkan aku seperti ini?
mengapa kau tidak mengerti?

helaan nafas ini pun tak berarti lagi
semua sirna terhantam dinginnya malam ini

aku ingin pergi sungguh sangat ingin pergi
aku ingin takkan pernah kembali
aku ingin semua menjadi tiada
biarkan apapun menjadi tak terasa

andai saja laut mampu ku gapai
ingin ku bersembunyi di bawah karang yang indah
hingga mungkin aku akan terlihat indah
oh semua hanyalah sepercik mimpi

aku, aku dan hanya aku
yang tersisa dalam heningnya malam
mereka dan semua tak mampu ku lihat lagi
hanya deretan suara yang berjajar kacau

aku ingin pergi sungguh sangat ingin pergi
aku tak ingin ada di sini
aku ingin semua tak ada lagi
aku ingin semuanya pergi

aku pun ingin pergi ...

Minggu, 26 Juni 2011

abang cincau

Walaupun ini bukan jam 12 siang lagi, tetep aja panaaaasss (hareudaaaang) ...
kring kring kring (bukan bunyi telfon rumah) >>> tapi ada yang jualan cincau, ummii yang emang lagi di luar langsung teriak "dee, mau cincau ga?" ya pasti langsung dijawab "mauuuu", di saut lagi "satu apa dua?" jawab lagi " duaa mii" ...
Aasssiiiikk alamat bakal jadi seger, dan bener ajja, seger bangeeet... dibeli cincau 2 gelas, dimana 1 gelas besar cuma dan hanya Rp1.000,- Heran pake banget,,, itu cincau hampir ada 5 potong (per gelas) ditambah es serut yang dicampur santen, trus di siram gula. cuma seceng??? seribu lah maksudnya. Dan percaya kalau ummii ga mungkin nawar 1 gelas es cincaunya jadi seribu (maklum ummii ratu nawar harga).

saya sih percaya sama abang yang jualannya,,, ini cincau beneran, rasanya masih alami, santennya juga ga bau, gulanya juga ga pait kaya kalo biasanya yang dicampur gula sodium/biang  gula atau apalah namanya.

SubhanAllah abaaaaang? jualan apa sedekah?
keliling pula... jalan kaki?
Yaa Allah ... saya aja dari depan rumah ke depan naek ojek. I proud of you, abang cincau

saya memang ga sempet liat abang yang jualannya, cuma liat gerobak dorongnya aja,,,
SubhanAllah ,,, 

saya bingung juga malu.
saya yang walaupun rumah di kampung gini, semua masih ada alhamdulillah tanpa kekurangan, mau ini mau itu tinggal minta. tapi masih aja sering ngeluh ada yang kurang ... Astaghfirullah ....
Yaa Allah,,, ini kah Teguran LembutMu yang menyatakan bahwa aku beruntung. 
Terimakasih Yaa Rabbii atas segala kenikmatan ini.

balik lagi ke cerita abang cincau tadi... beneran deh saya masih heran, mau nanya nanya tapi abangnya udah pergi. 
kalo 1 gerobak tadi ada sekitar paling banyak 50 misalkan. 50 x Rp 1.000.- = Rp 50.000,-
trus biaya buat masak gulanya berapa? beli esnya berapa? santennya berapa?
belum lagi kalau yang pake bungkusan plastik ... ampun dah itu gimana ngitungnya, kayanya saya yang sebagai mahasiswi jurusan manajemen keuangan tingkat akhir juga ga sanggup ngira-ngira berapa modalnya.
*ditambah tenaga buat masak cincau + ngedorong gerobaknya ... (belum lagi biaya hidup keluarganya abang cincau)

Alhamdulillah,,, saya memang benar-benar harus WAJIB BERSYUKUR ...

SubhanAllah ... sebenernya sih bukan cuma abang cincau tadi, pasti masih banyak yang bernasib sama atau bahkan tidak seberuntung itu, tapi mereka tetap berusaha dengan tujuan yang penting dapur ngebul

speechless pokoknya,,, ini juga bingung harus berucap apa lagi selain banyak banyak istighfar ...

susah berkata lagi... yang pasti memang semuanya harus di Syukuri apapun itu, kita harus yakin apapun yang terjadi, semua memang harus terjadi, tidak ada 1 perkara pun yang luput dari pengawasan Allah Swt. segala yang terjadi telah mendapat Izin Allah Swt dan itu semua sesuai dengan KehendakNya...

Semoga hati ini mampu merendah atas apa yang telah diLimpahkanNya
Semoga semua yang terpikir ini mampu menuntun untuk melangkah ke arah yang lebih baik

Allahumma Aaamiin ...
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong" (17:37)




Oh Tuhan

Oh Tuhan
Hingga kapan aku berada di sini?
Hingga kapan aku mengeluh seperti ini?

Ku syukuri apapun yang terjadi

Aku yakin akan KehadiranMu
Aku percaya akan semua JanjiMu

Tuhan
Hingga kapan Engkau izinkan aku berada di sini?
Hingga kapan Engkau biarkan aku mengeluh seperti ini?

Apa yang terjadi jika aku telah pergi?
Apa yang terjadi jika aku tetap di sini?

Tuhan
Untuk apa aku berada di sini?
Untuk apa aku mengeluh seperti ini?

Apa harus aku hanya diam?
Atau aku harus berlari?

Aku takut Engkau meninggalkanku seperti aku yang meninggalkanMu
Aku takut Engkau menjauhiku seperti aku yang menjauhiMu

Tuhan
Apa masih ada untuk aku yang seperti ini?
Apa semua akan menjadi sia sia?

Lantai 27

Siang ini, terasa diam dalam lantai 27. Tinggi sangat tinggi, asa pun tak mampu untuk mengintip ke dasar
Aku sendiri, ramai dalam tengah kota. Semua tertawa dan mengapa hanya aku yang bersedih? Semua bahagia dan mengapa hanya aku yang berduka?
Aku pun mulai menikmati semuanya, indah dalam angan, terlalu indah... hingga saat ku buka pandangan ini, semua tak terasa lagi

Siapakah aku? Hingga aku berada di sini? Jauh dari segalanya, segala yang jauh dan mendekati
Untuk apa aku di sini? Merasa semua yang ada dan tiada

Nafas ini sejenak terasa sesak, setelah sebelumnya terasa sangat sesak

Aku pun mulai melangkah ke tepi jendela, menatap segalanya hanya pada 1 arah
Aku lihat yang tidak mereka lihat, aku merasa semua yang terasa

Kini ku hanya coba menikmati, setiap suara yang berhembus dengan kencang

Ingin aku berpindah tempat, entah singgah di tepi yang mana
Kini ku coba menikmati, setiap angin yang bernyanyi dengan merdu

Semua sangat terasa, indah penuh duka
Semua memang harus terasa, tanpa harus terjadi

Aku dalam lantai 27.

Sabtu, 25 Juni 2011

Kekasih Duniaku :) (Semoga kelak engkau menjadi pendampingku hingga akhirat)

Berhubung ini malam minggu, ngungkapin isi hati aja ah ... (curhat)

Sekarang tepat 1 hari sebelum menuju 23 bulan dengannya. Sosok pria yang memang aku harapkan kehadirannya sejak dulu. Aku sangat mencintainya sebagai kekasihku. 
Dia pria yang lemah lembut dalam berkata dan bersikap,
Dia pria yang hangat dalam bertingkah dan berfikir,
Sulit untuk menjabarkan secara detail sosok dirinya, dia yang ku sayang...

Aku yang saat pertama mengenal dirinya, berada dalam keadaan yang terburuk dibanding hari hari apapun, saat hati ini pun sudah tidak menginginkan raga ini, aku mulai mengenalnya. Dia pria yang sederhana, lebih sederhana dari yang ku kira. Aku mengenalnya tanpa rencana hingga sampai saat ini aku memilikinya.
Aku syukuri akan kehadirannya yang telah mendampingiku selama ini. Aku sangat nyaman dengan keberadaannya di luar masalah atau konflik yang sering terjadi karena hal sepele hingga hal besar yang tak terduga.

Dia harapanku, pengantar harapku KepadaNya..
Sungguh aku ingin menjadikannya sebagai suamiku yang syah, yang mampu menjadi Imam untuk hidupku selanjutnya. Tapi apa daya? aku hanyalah seorang wanita, aku adalah seorang yang akan dinikahi bukan untuk menikahi. Aku hanya salah satu dari wanita yang terpilih untuk dinikahi, entah siapa yang akan menikahiku, aku pun tak tau.

Aku menyayanginya melebihi sayangku pada raga ini. Aku berusaha menjadikannya nomor 1 dibanding siapapun. Aku sangat berharap kepadanya melebihi apapun. Aku bahagia dengannya hingga semua berubah menjadi duka. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku takut untuk mendekatinya, aku takut untuk berharap kepadanya. Memang seharusnya aku tidak berharap kepadanya. Mungkin itulah Jalan yang Allah SWT. berikan kepadaku agar aku tidak lagi lagi melampaui batas meskipun kesalahan selalu ku lakukan. 
Kini dia hanya salah satu harapanku. Aku lebih berharap untuk mampu membenahi diri ini di JalanNya. 
Bukan berarti aku tidak menyayanginya, aku masih menyayanginya, masih sangat menyayanginya. Tetapi ku atur sebaik mungkin agar hati ini tidak kembali berharap kepadanya.

Aku tidak tahu siapa jodohku kelak, dan aku tidak tahu hingga kapan aku berada di BumiNya.

Aku sadari bahwa dia adalah pertolongan dari Allah Swt untukku, ketika aku dulu rapuh dan terjatuh, dia yang membantuku untuk mampu berdiri dengan sikapnya yang khas. Aku tahu dia pria yang baik. Bahkan saat ini aku berusaha untuk memperbaiki diri pun karena ingin menyeimbanginya. Aku percaya bahwa Allah Swt akan memberikan lelaki yang baik untuk wanita yang baik dan wanita yang baik untuk lelaki yang baik.
Aku merasa dia sangat baik, Aku ingin pantas dengannya. Aku ingin menjadi wanita yang baik yang diberikan Allah Swt untuknya (Allahumma Aaamiin) 

Jalan Allah Swt. memang tak terduga. Kini aku tak lagi berharap kepadanya, aku berusaha untuk berharap hanya kepada Allah Swt. Sang Pemilik Segalanya.
Aku memang bukan wanita yang baik tetapi aku sedang berusaha dan berharap mampu untuk menjadi wanita seperti itu
Aku memang bukan wanita sholehah tetapi aku sedang berusaha dan berharap mampu untuk menjadi wanita seperti itu
tidak hanya untuk diriku, tetapi untuk suami dan keluargaku kelak.

Dia masih selalu membimbingku, dia masih selalu menjagaku meskipun dalam jarak, dia tetap mejadi kekasihku yang ku sayang. Tak sanggup raga dan hati ini untuk meninggalkannya secara utuh agar aku menyerahkan diri kepada Allah Swt. 
Aku ingin mencapai Izin dan RidhoNya tanpa menyakitinya, aku ingin menjaga dia, seperti dia menjagaku.
tetapi aku kembali salah dan Allah Swt menegur pikiranku. Kini aku berpikir untuk bersikap baik terhadap dirinya. Karena sampai kapanpun aku tidak mampu membalas kebaikannya apalagi kebaikan OrangTua ku. Lebih baik aku berdoa agar dia mendapatkan yang terbaik dan balasan yang terbaik atas sikapnya yang menjagaku. Aku tahu Tuhanku MahaMendengar meskipun doa yang terucap dari hamba yang hina seperti diri ini.

Aku mulai belajar memahaminya, meskipun sudah hampir 23 bulan bersama, namun selama itu hanya dia yang memahamiku, aku sedikitpun tidak berusaha memahaminya. Itulah diriku yang egois, sangat egois terhadapnya. Sampai saat ini sulit untuk memahaminya karena diri ini terlampau egois.
Aku sering memakinya, aku sering menuduhnya selingkuh, bahkan setiap hari aku mencurigainya. Dia hanya tertawa pusing dengan segala tuduhanku. Sebenarnya aku yakin dia tidak selingkuh, karena kalaupun selingkuh tidak ada dosa baginya. Toh aku dan dia pun hanyalah sepasang kekasih, bukan sepasang suami-istri.

Hingga kini dia tetap yang terbaik. Akan ku pertahankan hingga saat yang seharusnya.
Saat ku tulis semua ini aku tak tau siapa jodohku dan jodohnya...
semoga umur ini masih masih mampu untuk melihat siapa yang menjadi jodohku dan jodohnya hingga ku buka kembali catatan ini. 
Jawaban dari penantianku selama ini.

Dia kekasih yang ku sayang, yang ku impikan hampir setiap malam, tak peduli apa kata yang lain, dia tetap yang terbaik dari Allah Swt untukku dan semoga aku mampu menjadi yang terbaik dari Allah Swt untuknya ...

Aku berusaha bertahan dengannya, dengan penuh harapku kepada Allah Swt.

"Yaa Rabb... Engkau MahaTahu akan segala sesuatu, hamba tidak meragukan segala KekuasaanMu... hamba memohon keRidhoanMu atas segala ibadah yang hamba lakukan...
hamba yakin apapun yang terjadi, semua itu memang harus terjadi... hamba memohon izin kepadaMu agar hati ini mampu menerima segala yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang akan terjadi.
Allahumma Aaamiin ..."

Senin, 20 Juni 2011

lelah

Hidupku sudah sampai saat ini, sangat ku syukuri meski tak jarang ribuan, jutaan, milyaran bahkan triliunan keluhan terucap, ku ingin diam tapi ragu untuk kulakukan,,, sadar karena itu hanya sebuah kesia-siaan. Kini aku ragu untuk melangkah, aku takut melakukan dosa lagi lagi lagi dan lagi... Yaa Allah.. hamba sungguh lelah, lelah karena setiap saat selalu ada dosa yang hamba perbuat.. Tapi aku tahu, aku yakin, atas apapun yang terjadi semua memang harus terjadi. Aku percaya akan Segala KekuasaanNya. Lalu sebenarnya apa yang harus aku perbuat? Berusaha memperbaiki diri? Memang sedang ku lakukan. Aku merasa segalanya sulit untuk diperbaiki, aku sadar aku telah jatuh terlalu dalam, dan pergi terlalu jauh, hingga rasa untuk menggapai masa depan pun terasa tidak mungkin... Aku lelah, sangat lelah, Hingga kapan aku mengeluh, atas hidup dan segala kesalahan. Ampuni hambamu ini Yaa Rabb... seringnya hamba mengingkari segala nikmat dan pertolonganMu...

Senin, 13 Juni 2011

sebab senyum itu masih ada

senyumku
memang tidak bersinar
tapi dia adalah teman
mungkin memang tidak ada yang peduli
tapi masih ada yang berharap

biasa
sama seperti yang lain
tapi ini tentang diri
bukan orang lain

biar mereka tertawa, mencaci
atau bahkan memukul
mungkin itu kesenangan mereka
biarkan...

aku di sini
berdiri di sini
dengan kakiku yang kuat menumpu
yang akan ku langkahkan dengan keyakinan itu

aku peduli apa kata orang lain
tapi itu bukan pematah hati
sudah cukup kekerasan yang ada
letih

aku tetap akan melangkah
berjalan ke depan
dengan cita dan tujuan pasti
walau tak ada yang menjamin
tapi 1. Aku TETAP dan AKAN SELALU mempunyai الله أكبر

Kamis, 09 Juni 2011

Jodohku

Jodohku...
Semoga engkau benar penyempurna agamaku kepadaNya

Jodohku...
Semoga Allah Swt. meniupkan fitrah cinta kedalam hatimu agar kau mampu mencintaiku dengan memahami segala kekurangan dan kelemahanku yang ada

Jodohku...
Semoga engkau mampu mengasihi dalam JalanNya dan menyayangiku dalam mengharap RidhoNya

Jodohku...
Semoga engkau mampu melembutkan hati, sikap dan setiap ucapmu ketika mengIMAMiku

Jodohku...
Semoga engkau kelak bahagia hidup bersama jiwa dan ragaku

Jodohku...
Semoga Allah Swt. memberikan Izin dan RidhoNya untuk mempertemukan kita di bumiNya


Aamiin Allahumma Aaamiin